Memupuk Sikap Optimisme dengan Mengamalkan : “Istiqomah, Istikharah, dan Istighfar”

Allah SWT telah menganugerahkan kepada kita akal sebagai motor dalam mengembangkan seluruh potensi yang kita miliki, Allah SWT menyempurnakan kekuatan akal tersebut dengan fungsi hati sebagai penawar sikap agresifitas kita sebagai makhluk yang diberikan amanat untuk mengelola bumi serta isinya, perpaduan kekuatan tersebut melahirkan bentuk amal sholeh yang akan dirasakan secara langsung oleh dirinya maupun lingkungan disekitarnya.
Islam sebagai agama yang mencerahkan, memandu fungsi akal, hati, dan jasmani untuk selalu bergerak positif, saling menguatkan, dan memberikan energy positif bagi dirinya secara langsung serta memberikan efek positif bagi lingkungannya. Bentuk aplikasi amal tersebut adalah sikap Istiqomah (konsisten, efektif, memiliki daya juang sepanjang masa), Istikharah (bersikap cerdas, bijaksana, membangun empati, dan mendahulukan kepentingan Allah dan Rasulnya di atas segalanya), dan Istighfar (bersikap korektif, tawadhu’, visioner dengan tetap berdasarkan peta obyektifitas diri, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki).
Tiga bentuk amal tersebut apabila terus dilakukan dan diaplikasikan dalam kehidupan keseharian, akan menjadi karakter, sumber energy yang tidak akan redup, terus memproduksi amal shaleh. Tiga amal ini seharusnya menjadi modal penting bagi setiap insan yang ingin menggapai kesuksesan secara jangka panjang.
Istiqomah (persistence). yaitu sikap konsisten yang diekspresikan sebagai pengejawantahan keimanan yang kuat, pelaksanaan ibadah berlandaskan syari’at yang murni, dan akhlaq yang mulia. Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam berpesan kepada sahabatnya tentang pesan Islam dalam kehidupan, seperti dalam Al-Hadits berikut:

عَنْ أَبِيْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُهُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه مسلم).

Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).

Sikap isitiqomah menjadi sumber energy, memperkuat karakter mukmin untuk terus berkarya dan beramal sholeh. Sikap istiqomah menjadi pembuktian sikap konsisten seorang muslim dalam menterjemahkan tantangan dan harapan dalam kehidupan. Sikap Istiqomah akan mendorong lebih jauh bagi seorang Muslim untuk terus berkarya dan beramal sholeh tanpa melihat kondisi dan situasi yang mempengaruhinya, ia akan selalu berdamai dengan situasi dan kondisi terekstrim sekalipun, hanya untuk mewujudkan tujuan Ibadah yang hakiki, dan mewujudkan ganjaran Alloh tertinggi, mendapatkan Ridho-Nya.
Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam Al-Qur-an surat Fushshilat ayat 30:
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushshilat: 30)
Istiqomah, melahirkan sikap fokus dan komitmen. 2 sikap yang sangat penting dalam dunia apapun juga, manajemen, bisnis, politik, pendidikan, dan lainnya. 2 karakter ini senantiasa diperlukan sebagai prasyarat mengukir kesuksesan.
Istiqomah dibangun dalam waktu yang panjang, mewujudkannya diperlukan sikap Muraqabah, komitmen menjalankan seluruh yang diperintahkan Alloh SWT., dan menjauhi segala larangan-Nya, Mu’ahadah, berkomitmen dengan nilai-nilai kebenaran Islam, Muhasabah, melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya, Mu’aqabah, dan Mujahadah adalah optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
Istikharah, memohon petunjuk Allah dalam setiap langkah, memohon do’a dan kekuatan atas pilihan. Sikap hati-hati dan senantiasa melakukan perhitungan yang didasarkan kepada prinsip agama akan membimbing manusia senantiasa berada dalam genggaman ridho Alloh SWT.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الْأَمْرَ ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ خَيْرًا لِي فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ قَالَ أَوْ فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ

Ya Allah sesungguhnya aku meminta pilihanMu dengan ilmuMu, dan meminta keputusan dengan ketentuanMu, Aku meminta kemurahanMu, sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan aku tidak ada daya untuk menentukan, Engkaulah yang mengetahui dan aku tidaklah tahu apa-apa, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara gaib. Ya Allah sekiranya Engkau mengetahui bahwa perkara ini (lalu menyebutkan masalahnya) adalah baik bagiku saat ini dan di waktu yang akan datang, atau baik bagi agamaku dan kehidupanku serta masa depanku maka tentukanlah itu untukku dan mudahkanlah ia bagiku lalu berkatilah. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku untuk agamaku dan kehidupanku dan masa depan perkaraku, atau bagi urusanku saat ini dan di masa mendatang, maka jauhkanlah ia dariku dan tentukanlah bagiku perkara yang lebih baik darinya, apapun yang terjadi, lalu ridlailah ia untukku”. (H.R. Ahmad, Bukhari dan Ashabussunan).

Istikharah adalah amalan yang akan melahirkan karakter penting bagi seorang Muslim: cerdas, bijaksana, membangun empati, kritis, dan mendahulukan kepentingan Allah dan Rasulnya di atas segalanya. Bukti totalitas sebagai hamba yang beriman, mempercayai hal yang ghaib (rezeki, jodoh, kematian) serta didorong oleh ikhtiar (proses memilih) yang maksimal, diakhiri dengan sikap tawakal merupakan bentuk amaliah muslim yang sangat penting ditengah kehidupan zaman saat ini. Kecerdasan memilih merupakan kunci kebahagian di zaman konsumerisme. Seorang muslim tidak hanya mengandalkan kekuatan nalar, namun banyak sekali kejadian di kehidupan ini yang tidak bisa dipecahkan secara nalar. Hanya dengan bentuk keimanan saja sebagai solusinya. Disinilah kehadiran amaliah Istikharah menjadi solusi. Menghadirkan peran Alloh, menyempurnakan ikhtiar dan berharap seluruh pilihan yang kita tetapkan menjadi sebab turunnya keridhoan kepada kita.

“من سعادة ابن آدم استخارته إلى الله ، ومن شقاوة ابن آدم تركه استخارة الله”

artinya: termasuk kemuliaan bani Adam adalah ia mau beristikharah kepada Allah, dan termasuk kedurhakaannya adalah manakala ia tidak mau beristikharah kepada Allah” (H.R. Hakim).
Amalan ketiga adalah Istighfar, sikap instropeksi dan mohon ampunan kepada Allah SWT. Sikap ini melahirkan karakter Muslim yang responsive-korektif, tawadhu’, visioner dengan tetap berdasarkan peta obyektifitas diri, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki.
Kehidupan penuh dengan resiko, namun dibalik resiko selalu muncul opportunity, kesempatan. Muslim yang senantiasa mendawamkan Istighfar akan melahirkan muslim yang memiliki sikap responsive sekaligus korektif, bersegera untuk mentransformasikan kesalahan tersebut dengan perbuatan baik, amal shaleh. Istighfar melahirkan pribadi tawadhu, hamble, sikap unggulan yang dibutuhkan seorang Pemimpin, karena senantiasa memahami bahwa sikap rendah hati dan kesederhanaan akan memproduksi efektifitas dalam bekerja, diterima dalam jejaring apapun, serta akan lebih mudah dalam mewujudkan tujuan. Istighfar, mampu melahirkan Pemimpin visioner, karena setiap aktivitas dan pekerjaan saat ini, senantiasa memberikan dampak bagi dirinya, kelompok, lingkungan, di masa depan. Memimpin dengan mempertimbangkan kemaslahan, dan kemaslahatannya menembus horizon waktu di masa depan. Istighfar, melahirkan sikap Jujur, sikap yang sangat mahal di zaman sekarang ini. Mendawamkan Istighfar menggiring seorang Muslim untuk mengakui segala kesalahan dan kelemahan yang ada pada dirinya. Istighfar adalah pengakuan yang paling tulus atas ketidakberdayaan seorang hamba dihadapan sang Khalik. Pantaslah Islam, dalam ajarannya akan memberikan ganjaran yang besar bagi pemeluknya yang senantiasa mendawamkan Istighfar, diantaranya : sebab diampuni dan dihapus dosa-dosa, dilapangkan rizki, dan datangnya rahmat dari Alloh SWT,
Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya:
“Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud:52).
Semoga Allah SWT., memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan dengan optimis, dipenuhi keimanan dan ridho-Nya. Amin

 

Leave a Comment